Market Positioning Matrix untuk Target Market
Market positioning matrix membantu menentukan target market, USP, dan strategi positioning agar promosi lebih tepat sasaran.
Daftar Isi
Ditulis oleh Tim Editorial Ibun Blog — Tim editorial yang menyusun dan mengulas konten seputar bisnis, UMKM, dan e-commerce Indonesia berdasarkan riset dan berbagai sumber terpercaya.
Market positioning matrix membantu bisnis melihat posisi produknya di benak target market ketika dibandingkan dengan pilihan lain yang tersedia. Dengan matriks ini, pemilik usaha dapat menentukan segmen prioritas, memilih pembeda yang memang dicari calon pembeli, lalu menyusun pesan pemasaran yang terdengar masuk akal dan mudah dipercaya.
Bayangkan Anda menjual software kasir untuk toko kelontong. Calon pelanggan tidak hanya membandingkan produk Anda dengan software kasir lain. Mereka juga membandingkannya dengan buku tulis, Excel, aplikasi gratis, atau kebiasaan menghitung uang secara manual di akhir hari. Tanpa peta yang jelas, promosi bisa ramai tetapi salah sasaran.
⚡ QUICK SUMMARY BOX
- Positioning yang kuat berangkat dari kebutuhan segmen tertentu, bukan dari klaim produk yang terlalu umum.
- Pilih dua atribut yang benar-benar dipakai pelanggan saat membandingkan alternatif, lalu petakan merek dan kompetitor secara jujur.
- Hasil matrix harus diterjemahkan ke produk, harga, konten, penawaran, dan metrik penjualan agar berdampak pada bisnis.
Langkah 1: Memahami Target Market dan Types of Market Positioning
Target market adalah kelompok pelanggan yang paling mungkin membutuhkan, membeli, serta memperoleh nilai nyata dari produk Anda. Kelompok ini tidak cukup dijelaskan dengan usia, gender, atau kota domisili. Anda perlu tahu pekerjaan yang ingin mereka selesaikan, kapan masalah itu muncul, berapa anggaran yang tersedia, sampai alasan yang membuat mereka menunda pembelian.
Contohnya, target sebuah brand makanan sehat bukan hanya “perempuan usia 25-35 tahun di Jakarta”. Definisi itu masih terlalu lebar. Target yang lebih berguna bisa berbunyi: pekerja kantor yang pulang larut, ingin makan malam praktis dengan kalori terukur, tetapi tidak punya waktu menyiapkan menu sendiri. Dari sini, bisnis bisa menentukan jam promosi, format paket, harga, hingga layanan pengantaran.
Types of market positioning merujuk pada beberapa cara merek mengambil sudut pembeda di pasar. Positioning dapat dibangun berdasarkan harga, kualitas, manfaat, kemudahan, situasi penggunaan, kategori, gaya hidup, atau perbandingan terhadap alternatif lain.
Misalnya, aplikasi akuntansi untuk UMKM dapat memosisikan diri sebagai “pencatatan kas paling mudah untuk pemilik toko yang tidak punya staf finance.” Kalimat ini jauh lebih kuat daripada klaim “aplikasi akuntansi terbaik.” Yang pertama menyebut siapa penggunanya, hambatan mereka, dan hasil yang dijanjikan. Yang kedua terdengar besar, tetapi kosong.
Positioning bukan sekadar slogan. Ia merupakan keputusan tentang:
- Pelanggan mana yang menjadi prioritas.
- Masalah apa yang paling ingin diselesaikan.
- Manfaat utama yang membuat produk layak dipilih.
- Bukti yang membuat janji tersebut bisa dipercaya.
- Alternatif apa yang ingin dikalahkan.
Kalau semua orang dianggap sebagai target, komunikasi akan melebar ke mana-mana. Iklan berbicara soal harga, konten membahas kualitas, sales menjanjikan layanan personal, sementara produk tidak mendukung semuanya. Akhirnya, pelanggan hanya membandingkan lewat diskon. Margin pun ikut terkikis.
Bedakan segmentasi, target, dan positioning
Segmentasi adalah proses membagi pasar ke dalam kelompok yang memiliki karakteristik atau kebutuhan serupa. Contohnya, sebuah bisnis frozen food dapat membagi pasar menjadi keluarga muda, anak kos, pemilik warung makan, dan reseller rumahan.
Targeting berarti memilih kelompok yang paling layak dilayani. Pertimbangannya bukan hanya jumlah orang dalam segmen tersebut, tetapi juga potensi margin, tingkat urgensi masalah, akses distribusi, persaingan, serta kemampuan bisnis untuk melayani mereka.
Positioning adalah persepsi yang ingin Anda bangun pada target terpilih. Setelah memilih keluarga muda sebagai target, misalnya, frozen food tersebut dapat mengambil posisi sebagai “stok lauk praktis untuk keluarga sibuk yang ingin makan rumahan tanpa masak dari nol.”
Urutannya tidak boleh terbalik. Anda tidak bisa menentukan posisi yang tajam sebelum tahu siapa pembelinya. Sebaliknya, memilih target tanpa positioning yang jelas membuat produk gampang dibandingkan hanya dari harga.
Kapan market positioning matrix diperlukan
Gunakan market positioning matrix ketika bisnis sedang:
- Meluncurkan produk baru.
- Masuk ke kategori atau kota baru.
- Mengalami penurunan konversi.
- Melihat kompetitor mulai menawarkan janji yang mirip.
- Bingung menentukan pesan iklan.
- Mendapat banyak leads, tetapi sedikit yang benar-benar cocok.
- Mengalami perdebatan internal soal siapa pelanggan utama.
Matrix bukan alat untuk meramal masa depan. Fungsinya lebih praktis: menyatukan keputusan tim berdasarkan bukti, bukan asumsi yang paling keras terdengar saat rapat.
Langkah 2: Mengumpulkan Bukti Sebelum Membuat Matrix
Market positioning matrix yang berguna tidak dibangun dari opini internal. Tim boleh punya dugaan awal, tetapi pelangganlah yang menentukan apakah dugaan itu benar atau tidak. Titik awalnya adalah data pasar dan percakapan nyata.
Kumpulkan sumber seperti:
- Chat WhatsApp dari calon pembeli.
- Rekaman panggilan sales.
- Ulasan marketplace.
- Tiket customer service.
- Pertanyaan yang muncul saat demo produk.
- Alasan pembelian berhasil atau gagal.
- Data pencarian di Google Search Console.
- Komentar pada konten TikTok, Instagram, atau YouTube.
- Hasil survei pelanggan lama.
Cari pola bahasa yang digunakan pelanggan. Saat mereka berkata, “Saya takut aplikasinya ribet dan nanti karyawan saya tidak bisa pakai,” jangan buru-buru menerjemahkannya menjadi “butuh fitur onboarding.” Catat kalimat aslinya. Frasa tersebut bisa menjadi bahan headline landing page, naskah iklan, atau script tim sales.
Untuk usaha yang belum memiliki data besar, lakukan wawancara singkat kepada 8 sampai 15 orang dari calon segmen. Pilih orang yang baru membeli solusi serupa, sedang mempertimbangkan pembelian, atau baru berhenti memakai kompetitor.
Jangan bertanya, “Apakah Anda suka produk ini?” Jawaban untuk pertanyaan seperti itu sering sopan, tetapi tidak selalu jujur. Gunakan pertanyaan yang menggali situasi nyata:
- “Apa yang terjadi sampai Anda mulai mencari solusi?”
- “Sebelumnya Anda memakai cara apa?”
- “Pilihan apa saja yang Anda bandingkan?”
- “Apa yang membuat Anda ragu membayar?”
- “Hal apa yang membuat Anda yakin memilih produk tertentu?”
- “Setelah membeli, bagian mana yang ternyata mengecewakan?”
Data minimum yang perlu dicatat
Buat tabel riset dengan kolom berikut:
| Data yang Dicatat | Tujuan | |---|---| | Profil segmen | Memahami siapa calon pembeli utama | | Konteks masalah | Mengetahui kapan dan mengapa kebutuhan muncul | | Kebutuhan fungsional | Mengidentifikasi pekerjaan praktis yang harus selesai | | Kebutuhan emosional | Memahami rasa aman, percaya diri, atau tenang yang dicari | | Alternatif saat ini | Memetakan kompetitor dan kebiasaan lama | | Kriteria pembelian | Mengetahui faktor pembanding utama | | Keberatan | Menemukan penghalang konversi | | Anggaran | Menilai kecocokan harga dan paket | | Bukti yang dipercaya | Menentukan testimoni, demo, sertifikat, atau garansi yang dibutuhkan |
Tambahkan kutipan pelanggan apa adanya. Kalimat asli pelanggan sering jauh lebih bernilai daripada jargon promosi. Kalau lima calon pembeli menyebut, “Saya mau stoknya aman, bukan cuma murah,” itu adalah sinyal bahwa ketersediaan barang mungkin lebih penting daripada diskon.
Selain pelanggan, audit kompetitor langsung dan tidak langsung. Kompetitor langsung menjual solusi dalam kategori yang sama. Kompetitor tidak langsung bisa berupa spreadsheet, proses manual, freelancer, produk substitusi, atau keputusan untuk tidak melakukan apa-apa.
Untuk bisnis manajemen stok, pesaingnya bukan hanya aplikasi stok lain. Buku stok di kasir, file Excel yang dikerjakan admin, bahkan ingatan pemilik toko juga termasuk alternatif. Sering kali, kebiasaan lama justru lawan paling berat karena terasa murah dan sudah familiar.
Hindari data yang menyesatkan keputusan
Jangan menjadikan jumlah followers media sosial sebagai bukti utama kekuatan positioning kompetitor. Audiens besar belum tentu menghasilkan pembelian. Ada brand yang viral karena konten hiburan, tetapi pelanggannya tetap sulit dikonversi saat masuk ke halaman checkout.
Jangan pula hanya mengandalkan survei pilihan ganda. Responden sering memilih jawaban yang terdengar ideal, sedangkan perilaku belinya berbeda ketika uang benar-benar keluar dari rekening.
Padukan data kuantitatif dan kualitatif:
- Kuantitatif: conversion rate, repeat order, average order value, biaya akuisisi, tingkat retur, dan churn.
- Kualitatif: rekaman percakapan, alasan keberatan, ulasan pelanggan, serta wawancara mendalam.
Langkah 3: Memilih Sumbu Market Positioning Matrix yang Bermakna
Matrix biasanya berbentuk diagram dengan dua sumbu. Sederhana secara visual, tetapi pemilihan sumbu menentukan apakah hasilnya berguna atau hanya menjadi bahan presentasi.
Kesalahan yang sering terjadi adalah memilih atribut yang terlihat keren bagi tim, tetapi tidak dipakai pelanggan saat membuat keputusan. Misalnya, “modern” versus “tradisional” tidak akan membantu bila pelanggan sebenarnya hanya membandingkan kecepatan pengiriman dan total biaya.
Pilih dua atribut yang memenuhi tiga syarat:
- Penting bagi target market.
- Bisa dirasakan atau dilihat pelanggan.
- Mampu dibuktikan bisnis secara konsisten.
Sumbu yang bisa dipakai antara lain:
- Harga rendah hingga premium.
- Fitur dasar hingga lengkap.
- Layanan mandiri hingga pendampingan intensif.
- Pengiriman standar hingga cepat.
- Produk massal hingga spesifik untuk kebutuhan tertentu.
- Implementasi lama hingga siap dipakai cepat.
Contoh pemilihan sumbu untuk beberapa kategori
Untuk brand skincare, sumbu yang relevan mungkin formula sederhana hingga berbahan aktif kompleks dan harga terjangkau hingga premium. Dengan peta ini, Anda bisa melihat apakah pasar sudah penuh oleh serum aktif mahal atau justru ada ruang untuk produk basic yang transparan bagi kulit sensitif.
Untuk jasa logistik B2B, gunakan cakupan rute terbatas hingga luas serta tracking dasar hingga visibilitas operasional real-time. Perusahaan distribusi makanan beku, misalnya, tidak sekadar mencari ongkir murah. Mereka perlu tahu posisi kendaraan, estimasi tiba, dan bukti suhu penyimpanan jika produk sensitif terhadap keterlambatan.
Untuk kursus keterampilan, atribut yang masuk akal adalah belajar mandiri hingga mentoring langsung dan materi umum hingga spesifik per profesi. Kelas Excel umum akan bersaing di area berbeda dengan kursus Excel untuk staf finance yang membahas rekonsiliasi bank, laporan arus kas, dan formula untuk closing bulanan.
Jangan memakai skala kabur. Tetapkan definisi operasional agar semua tim menilai dengan standar yang sama.
| Atribut | Contoh Definisi Operasional | |---|---| | Harga premium | Harga paket utama berada di atas rata-rata kategori | | Layanan cepat | SLA respons customer service di bawah 10 menit | | Fitur lengkap | Pengguna dapat menyelesaikan pekerjaan inti tanpa aplikasi tambahan | | Pengiriman cepat | Pesanan sampai dalam hari yang sama atau sesuai SLA tertulis | | Pendampingan tinggi | Ada onboarding, konsultasi, dan support aktif setelah pembelian |
Petakan persepsi, bukan keinginan merek
Tempatkan merek berdasarkan persepsi pelanggan saat ini, bukan posisi yang diinginkan tim. Bila pelanggan melihat produk sebagai murah tetapi rumit, jangan memberi skor tinggi pada sumbu “mudah dipakai” hanya karena tim sedang merencanakan perbaikan onboarding.
Pisahkan dua peta:
- Peta kondisi saat ini: cara pelanggan melihat merek hari ini.
- Peta posisi tujuan: posisi yang ingin dicapai dalam periode tertentu.
Perbedaan antara keduanya menunjukkan pekerjaan yang harus dilakukan. Mungkin Anda perlu memperbaiki produk. Mungkin bukti di halaman penjualan kurang jelas. Atau mungkin harga tidak sejalan dengan pengalaman yang diberikan.
Setelah merek dan kompetitor dipetakan, cari ruang yang punya nilai ekonomi. Ruang kosong tidak otomatis berarti peluang. Bisa jadi tidak ada permintaan, biaya operasionalnya terlalu tinggi, atau kompetitor sengaja menghindarinya karena marginnya buruk.
Validasi celah tersebut dengan landing page, pre-order, wawancara lanjutan, kampanye kecil, atau penawaran terbatas. Jangan langsung menambah gudang, merekrut tim besar, atau mengubah seluruh katalog hanya karena ada satu titik kosong di diagram.
Langkah 4: Merumuskan Nilai dan What Is USP in Marketing
Setelah menemukan posisi yang realistis untuk dimenangkan, rumuskan proposisi nilai. Pertanyaan what is usp in marketing dapat dijawab seperti ini: USP atau unique selling proposition adalah alasan spesifik dan relevan yang membuat pelanggan memilih satu produk dibandingkan alternatif.
USP bukan daftar seluruh keunggulan. USP juga bukan klaim “kualitas terbaik” atau “nomor satu.” Hampir semua brand bisa mengucapkannya. Pelanggan tidak punya alasan untuk percaya hanya karena Anda menulisnya dengan huruf besar.
USP yang kuat menghubungkan tiga unsur:
- Masalah target.
- Manfaat utama yang dijanjikan.
- Alasan untuk percaya.
Formula sederhananya:
Untuk [segmen] yang ingin [hasil], [merek] menyediakan [solusi atau manfaat] karena [bukti atau mekanisme pembeda].
Contoh untuk SaaS POS:
Untuk pemilik toko retail dengan 2-5 kasir yang ingin menutup laporan harian tanpa cek transaksi satu per satu, aplikasi X menyediakan rekonsiliasi kas otomatis karena setiap transaksi kasir, diskon, dan refund langsung tercatat dalam satu dashboard.
Formula ini adalah alat berpikir. Saat dijadikan materi pemasaran, sederhanakan bahasanya agar tetap enak dibaca.
Contoh USP yang lebih tajam
Pernyataan lemah:
“Kopi berkualitas dengan harga terbaik.”
Hampir setiap kedai bisa mengklaimnya. Tidak ada target, situasi, atau bukti yang membuatnya istimewa.
Pernyataan yang lebih tajam:
“Kopi susu rendah gula untuk pekerja kantoran yang ingin tetap fokus tanpa rasa terlalu manis, dibuat per pesanan dan siap diambil dalam lima menit.”
Kalimat ini menyebut segmen, kebutuhan, manfaat, serta mekanisme operasional yang bisa diuji. Kalau antrean ternyata selalu 15 menit, janji itu akan runtuh. Itu sebabnya positioning harus didukung kemampuan nyata.
Untuk produk B2B, bukti dapat berupa integrasi sistem, waktu implementasi, hasil terukur, sertifikasi, garansi, atau studi kasus pelanggan. Untuk bisnis retail, bukti bisa datang dari bahan baku, panduan ukuran, kebijakan retur, kecepatan pengiriman, dan testimoni yang spesifik.
Klaim tanpa bukti hanya menciptakan ekspektasi tinggi. Komplain biasanya menyusul.
Uji apakah USP benar-benar berbeda
Gunakan lima pertanyaan ini:
- Apakah pelanggan benar-benar peduli terhadap manfaat tersebut?
- Apakah kompetitor utama tidak menyampaikan janji yang sama?
- Apakah pesan itu dapat dijelaskan dalam satu kalimat?
- Apakah ada bukti nyata yang mendukungnya?
- Apakah operasional bisnis mampu memenuhi janji tersebut berulang kali?
Bila salah satu jawabannya “tidak”, USP perlu diperbaiki. Jangan dipaksakan.
Masalahnya, banyak pelaku usaha membakar anggaran iklan pada pesan yang terlalu luas. Iklan menarik klik, tetapi halaman produk tidak memberi alasan kuat untuk membeli. Leads masuk, admin sibuk, lalu transaksi tidak bergerak.
Temuan dari berbagai forum seller memperlihatkan dampaknya secara nyata:
Di berbagai forum diskusi seller, masalah utama yang sering muncul adalah anggaran promosi habis untuk menjangkau audiens luas yang hanya tertarik pada diskon, sementara pembeli dengan kebutuhan paling sesuai tidak memperoleh pesan yang relevan. Akibatnya, pelaku usaha menghadapi biaya akuisisi yang meningkat, tim admin harus menjawab pertanyaan berulang dari calon pelanggan yang tidak cocok, dan margin tertekan karena promo dipakai untuk menutup ketidakjelasan posisi produk.
Situasi tersebut biasanya berawal dari positioning yang berbunyi “untuk semua orang.” Tim iklan menargetkan audiens luas, tim sales menerima semua jenis pertanyaan, dan operasional dipaksa memenuhi ekspektasi yang tidak seragam. Market positioning matrix membantu memutus pola ini dengan memperjelas siapa yang layak dikejar dan siapa yang sebaiknya tidak menjadi fokus utama.
Langkah 5: Memilih Strategi Positioning yang Dapat Dipertahankan
Strategi positioning harus cocok dengan kemampuan bisnis, bukan sekadar mengikuti ruang kosong di matrix. Posisi harga rendah, misalnya, membutuhkan struktur biaya, volume pembelian, pengadaan, dan distribusi yang efisien. Tidak cukup hanya memasang harga murah selama dua minggu.
Posisi premium juga punya tuntutan sendiri. Produk, visual, pelayanan, kemasan, komunikasi, sampai proses komplain harus mendukung harga yang dibayarkan. Pelanggan yang membeli sepatu lokal seharga Rp1,5 juta akan menilai detail yang berbeda dibanding pelanggan yang membeli sepatu diskon Rp199 ribu.
Positioning berdasarkan harga dan nilai
Harga rendah cocok bila bisnis punya keunggulan biaya yang jelas. Contohnya, produsen yang membeli bahan baku langsung dari petani, memiliki volume besar, dan mengelola distribusi sendiri.
Namun, jangan menjadikan diskon sebagai identitas merek. Diskon bisa mendorong penjualan sementara, tetapi pelanggan dapat terbiasa menunggu promo. Ketika promo berhenti, permintaan ikut turun.
Positioning berbasis nilai lebih sehat bila Anda dapat menjelaskan manfaat total yang diterima pelanggan, seperti:
- Waktu yang dihemat.
- Risiko yang berkurang.
- Umur pakai yang lebih panjang.
- Biaya perawatan yang lebih rendah.
- Hasil kerja yang lebih cepat.
- Pengalaman yang lebih nyaman.
Printer thermal untuk toko, misalnya, mungkin lebih mahal daripada printer biasa. Namun, bila cetak struknya cepat, tidak memakai tinta, dan lebih tahan untuk transaksi harian, nilai totalnya bisa lebih tinggi bagi pemilik toko yang sibuk.
Positioning berdasarkan kualitas, spesialisasi, dan kenyamanan
Kualitas menjadi posisi kuat ketika standar produksinya dapat diukur dan dikomunikasikan. Brand roti sourdough dapat menjelaskan proses fermentasi, bahan baku, waktu produksi, dan informasi nutrisi. Jangan berhenti pada kata “premium.”
Spesialisasi efektif ketika target punya kebutuhan berbeda dari pasar umum. Contohnya, katering untuk pasien diet rendah garam, software untuk bengkel motor, atau jasa foto produk khusus penjual fashion marketplace. Semakin spesifik masalahnya, semakin mudah pesan terasa relevan.
Kenyamanan unggul saat bisnis memangkas langkah pelanggan. Layanan laundry dengan penjemputan terjadwal, notifikasi WhatsApp otomatis, dan pembayaran digital lebih mudah dijual kepada keluarga sibuk daripada sekadar laundry “berkualitas.”
Posisi yang tahan lama biasanya tidak berdiri pada satu kata sifat. Ia ditopang oleh kombinasi segmen yang fokus, masalah yang jelas, pengalaman produk, dan bukti yang kuat. Pilih satu manfaat utama sebagai jangkar komunikasi. Manfaat lain tetap ada, tetapi menjadi penguat.
Langkah 6: Menerjemahkan Positioning ke Eksekusi Pemasaran
Hasil market positioning matrix harus terlihat di setiap titik kontak pelanggan. Jangan sampai posisi merek menjanjikan kesederhanaan, tetapi proses checkout membingungkan. Jangan pula mengklaim premium sementara foto produk gelap, balasan chat lambat, dan pengemasan asal-asalan.
Jika merek Anda adalah solusi sederhana untuk pemula, navigasi produk, onboarding, materi promosi, dan layanan pelanggan harus terasa sederhana. Jika merek mengambil posisi premium, foto produk, kemasan, konsultasi, dan kebijakan purnajual juga harus menopang persepsi tersebut.
Selaraskan pesan pada funnel pemasaran
Di tahap awareness, gunakan masalah dan hasil yang dekat dengan pengalaman target. Iklan untuk aplikasi kasir bisa memakai pesan, “Tutup buku kas toko tanpa cek nota satu per satu.”
Di tahap consideration, jelaskan mekanisme, perbandingan, testimoni, dan bukti. Tampilkan video demo yang memperlihatkan laporan penjualan, stok, dan transaksi kasir dalam situasi nyata.
Di tahap conversion, kurangi risiko melalui demo, sampel, garansi, pilihan pembayaran, atau panduan pembelian. Untuk produk skincare, misalnya, Anda dapat menawarkan panduan pemakaian berdasarkan kondisi kulit dan kebijakan pengembalian untuk produk yang belum dibuka.
Setelah transaksi, positioning tetap harus dijaga lewat onboarding, layanan, serta komunikasi repeat order. Janji merek tidak berhenti di iklan.
Buat message house sederhana:
- Baris pertama: janji utama.
- Baris kedua: tiga alasan pendukung.
- Baris berikutnya: bukti dari setiap alasan.
Contoh untuk jasa katering sehat:
| Elemen | Isi Pesan | |---|---| | Janji utama | Makan siang rendah kalori yang tetap mengenyangkan untuk pekerja kantor | | Alasan 1 | Kalori dan protein tiap menu terukur | | Alasan 2 | Menu berganti setiap hari kerja | | Alasan 3 | Pengantaran sebelum jam makan siang | | Bukti | Label nutrisi, menu mingguan, rekam pengantaran, dan testimoni pelanggan |
Dengan struktur ini, tim konten tidak perlu membuat klaim acak. Tim sales juga memiliki jawaban yang konsisten saat calon pembeli bertanya.
Sesuaikan harga dan kanal distribusi
Harga adalah sinyal positioning. Merek yang menjual pengalaman premium tetapi terus-menerus memakai promo ekstrem akan membuat pelanggan ragu terhadap nilai aslinya. Sebaliknya, produk hemat dengan biaya tambahan tersembunyi dapat memicu ketidakpercayaan.
Pastikan struktur paket, biaya kirim, add-on, serta kebijakan retur sejalan dengan janji merek.
Kanal juga memengaruhi posisi. Produk B2B dengan nilai kontrak besar mungkin memerlukan demo, konsultasi, dan follow-up sales. Produk kebutuhan rutin seperti sabun cuci atau kopi sachet lebih cocok mengandalkan marketplace, minimarket, atau langganan pembelian ulang.
Pilih kanal berdasarkan cara target mencari informasi dan tingkat risiko pembeliannya. Bukan hanya karena kanal itu sedang ramai.
Langkah 7: Mengukur dan Memperbaiki Posisi Merek
Positioning perlu dievaluasi melalui indikator persepsi dan perilaku. Untuk persepsi, pantau jawaban pelanggan terhadap pertanyaan seperti:
- “Apa alasan utama Anda memilih kami?”
- “Merek ini paling cocok untuk siapa?”
- “Sebelum membeli, Anda membandingkan kami dengan apa?”
- “Tiga kata apa yang terlintas saat mendengar nama brand ini?”
Untuk perilaku, ukur:
- Conversion rate.
- Biaya akuisisi pelanggan.
- Nilai pesanan rata-rata.
- Repeat purchase.
- Tingkat retur.
- Alasan churn.
- Margin per segmen.
- Persentase transaksi dari target market prioritas.
Kalau pesan sudah sering disampaikan tetapi pelanggan menggambarkan brand Anda dengan kata yang berbeda, mungkin bukti belum cukup. Bisa juga pengalaman produk tidak sesuai janji.
Kalau konversi tinggi tetapi margin rendah, posisi harga atau paket perlu diperiksa. Kalau banyak leads masuk tetapi sedikit yang cocok, definisi target dan kriteria iklan perlu dipersempit.
Jalankan eksperimen secara terkontrol
Uji satu perubahan utama dalam satu waktu: headline, klaim manfaat, penawaran, segmen audiens, atau bentuk bukti. Jangan mengganti semuanya sekaligus. Kalau hasil naik atau turun, Anda tidak akan tahu faktor mana yang menyebabkan perubahan.
Tentukan hipotesis sebelum kampanye berjalan. Contohnya:
“Pesan yang menekankan penghematan waktu akan menaikkan demo booking dari pemilik toko dengan lebih dari tiga staf.”
Lalu bandingkan dengan baseline. Catat hasilnya, termasuk data yang tidak sesuai harapan. Eksperimen yang disiplin mencegah bisnis mengubah arah hanya karena satu komentar pelanggan atau satu iklan yang kebetulan viral.
Perbarui matrix saat ada perubahan perilaku pelanggan, kompetitor baru, regulasi, teknologi, atau kemampuan operasional. Jangan mengubah posisi hanya karena satu kampanye berkinerja buruk. Lihat pola dari beberapa sumber data dan pastikan keputusan tetap sehat secara unit economics.
Langkah 8: Ekstra: Template Spreadsheet Market Positioning Matrix
Buat spreadsheet dengan empat sheet agar keputusan positioning dapat ditelusuri dan digunakan oleh seluruh tim.
Sheet pertama: “Segmen”
Isi dengan ukuran segmen, masalah utama, daya beli, urgensi, akses kanal, tingkat kompetisi, serta skor prioritas. Jangan hanya memberi skor tinggi karena segmennya besar. Segmen kecil dengan kebutuhan mendesak dan margin sehat bisa lebih menarik.
Sheet kedua: “Kompetitor”
Masukkan merek atau alternatif yang paling sering dibandingkan pelanggan. Catat harga, fitur, kelebihan, kelemahan, pesan utama, ulasan pelanggan, serta bukti pembeda.
Sheet ketiga: “Matrix”
Tulis dua atribut yang dipilih, definisi skala 1 sampai 5, dan skor setiap pemain berdasarkan bukti. Tambahkan kolom sumber data agar penilaian tidak berubah hanya karena opini terbaru dalam rapat.
Visualisasikan skor tersebut dalam scatter chart. Dari sana, Anda bisa melihat area yang padat, pemain yang berada di posisi serupa, serta celah yang layak diuji.
Sheet keempat: “Eksekusi”
Isi dengan target segment, janji utama, tiga pesan pendukung, bukti, kanal, CTA, pemilik tugas, tenggat, serta metrik keberhasilan.
Gunakan checklist berikut sebelum kampanye dijalankan:
- Target sudah cukup spesifik.
- Manfaat utama hanya satu dan mudah dipahami.
- Bukti pendukung sudah tersedia.
- Harga mendukung posisi yang dipilih.
- Pengalaman setelah pembelian konsisten dengan janji.
- Tim sales dan admin memahami pesan utama.
- Metrik evaluasi telah ditetapkan.
Resource ini dapat dipakai sebagai dokumen kerja bulanan. Setiap perubahan pesan, harga, fitur, atau kanal sebaiknya diuji kembali terhadap target dan posisi yang sudah dipilih. Dengan begitu, pertumbuhan bisnis tidak mengorbankan kejelasan merek.
Langkah 9: FAQ tentang Market Positioning dan Target Market
Q: what is stp in marketing?
A: STP adalah singkatan dari segmentation, targeting, dan positioning. Segmentasi membagi pasar ke kelompok dengan kebutuhan atau karakter yang serupa. Targeting memilih kelompok prioritas yang paling layak dilayani. Positioning menentukan alasan utama produk Anda perlu dipilih oleh kelompok tersebut. Ketiganya membuat promosi lebih terarah, biaya akuisisi lebih terkendali, dan pesan penjualan lebih relevan.
Q: product orientation vs market orientation?
A: Product orientation berfokus pada kemampuan, fitur, dan kualitas produk yang dibuat bisnis. Market orientation berfokus pada kebutuhan pelanggan, perubahan permintaan, serta respons kompetitor. Produk tetap penting, tetapi keputusan yang berangkat dari kebutuhan pasar membantu bisnis membuat penawaran yang memang dicari dan bersedia dibayar oleh pelanggan.
Q: Bagaimana memilih dua sumbu untuk market positioning matrix?
A: Pilih atribut yang sering dipakai target saat membandingkan pilihan, dapat dibuktikan, dan benar-benar memengaruhi keputusan beli. Gunakan wawancara pelanggan, ulasan, pertanyaan sales, serta data transaksi. Hindari atribut abstrak seperti “lebih keren” atau “lebih modern” jika tidak punya definisi dan bukti yang jelas.
Q: Apakah market positioning matrix hanya berguna untuk perusahaan besar?
A: Tidak. UMKM justru dapat memakai matrix untuk menghindari promosi yang terlalu umum dan anggaran yang terbuang. Mulailah dari tiga sampai lima kompetitor atau alternatif yang paling sering disebut pelanggan. Fokusnya bukan membuat diagram rumit, melainkan menentukan posisi yang realistis, menguntungkan, dan bisa dibuktikan dalam operasi harian.
Q: Seberapa sering positioning merek harus dievaluasi?
A: Tinjau secara berkala, misalnya setiap kuartal, atau saat ada perubahan penting pada pelanggan, kompetitor, harga, dan produk. Evaluasi tidak selalu berarti mengganti posisi. Gunakan data persepsi, konversi, margin, serta retensi untuk melihat apakah janji merek masih dipahami dan mendatangkan pelanggan yang sesuai.
Q: Apa perbedaan USP dengan slogan?
A: USP adalah alasan pembelian yang spesifik, bernilai, dan dapat dibuktikan. Slogan adalah bentuk komunikasi singkat untuk menyampaikan identitas atau pesan merek. Slogan dapat berubah mengikuti kampanye, sedangkan USP seharusnya berakar pada keunggulan nyata yang memengaruhi keputusan pelanggan.
Langkah 10: Kesimpulan dan Tindakan Berikutnya
Market positioning matrix memberi kerangka untuk memilih target market, memahami alternatif pelanggan, serta menentukan pembeda yang layak dipertahankan. Nilainya tidak berhenti pada diagram dua sumbu. Yang menentukan hasil adalah disiplin mengumpulkan bukti, memilih atribut keputusan yang tepat, lalu menerjemahkan posisi ke produk, harga, layanan, dan komunikasi.
Mulailah dari satu segmen prioritas dan beberapa kompetitor yang paling sering dibandingkan pelanggan. Petakan kondisi saat ini secara jujur. Rumuskan janji utama yang punya bukti. Setelah itu, uji pesan tersebut melalui kampanye kecil sebelum memperbesar anggaran.
Jangan buru-buru mengejar semua orang. Posisi yang jelas akan membantu bisnis menarik pelanggan yang lebih cocok, mengurangi pertanyaan yang berulang, menjaga margin, dan membuat setiap rupiah promosi bekerja lebih keras melalui market positioning matrix yang didukung data pelanggan.
Related Articles
- Cara Menentukan Target Market untuk UMKM
- Strategi USP Produk agar Tidak Bersaing Lewat Harga
- Cara Riset Kompetitor untuk Bisnis Online
- Panduan Membuat Value Proposition yang Meyakinkan
Artikel Terkait
Brand Guidelines: Panduan Identitas Merek
Brand guidelines membantu UMKM menjaga identitas merek, logo, warna, dan komunikasi tetap konsisten di semua kanal penjualan.
Brand Identity: Panduan Merek yang Konsisten
Pelajari brand identity untuk membangun merek konsisten, memperkuat brand image, dan meningkatkan kepercayaan pelanggan.
Brand Awareness Pyramid: Panduan Membangun Merek
Brand awareness pyramid membantu bisnis mengukur recognition, recall, dan top of mind untuk membangun merek yang lebih mudah dipilih.